HADITS MAUDHU’

 

I.  PENDAHULUAN

Alhamdulillah segala puja dan puji kita panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan kita kesehatan dan kenikmatan sehingga kita dapat berkumpul dan dapat berdiskusi ditempat yang penuh berkah ini. Shalawat serta serta salam kita haturkan kepada nabi Muhammad SAW, keluarga dan para sahabatnya. Berkat jasa beliaulah kita bisa mengenal Islam dan bisa melihat serta bisa membaca hadits sampai sekarang.

Telah kita ketahui dan kita yakini bersama bahwa hadits merupakan sumber kedua setelah al-Qur’an dalam Islam. Serta telah kita ketahui juga bahwa hadits baru dikodifikasi setelah satu abad setelah Rasulullah meninggal dunia, sehingga tidak menutup kemungkinan banyak sekali peluang dan kesempatan bagi orang yang mempunyai kepentingan untuk kelompok, politik, madzhab maupun untuk mendekatkan diri pada pengguasa dalam membuat hadits-hadits maudhu (palsu). Hadits Maudhu ini pada dasarnya tidak layak untuk disebut sebagai sebuah hadits, karena ia sudah jelas bukan sebuah hadits yang bisa disandarkan pada Nabi SAW. Hadîst Maudhû sudah ada kejelasan atas kepalsuannya. Serta hadîst maudhû ini, sebagai mana hadits sahih telah banyak tersebar dan beredar dalam masyarakat muslim, dan diakui sebagai sebuah hadits yang berasal dari Nabi. Disinilah kemudian hadîts maudhû perlu dimasukkan ke dalam kelompok kajian ilmu hadits ini, meskipun sebenarnya dan pada dasarnya ia bukanlah sebuah hadits.

Tema tentang hadits maudhu (kriteria, sebab-sebab munculnya, kitab, contoh, status wurud dan kehujjahanya) begitu penting dibahas pada makalah kali ini. Tujuan utamanya supaya kita kaum muslimin atau lebih khususnya mahasiswa magister agama Islam dapat mengetahui dan dapat mengenal lebih jauh tentang hadits maudhu.

Setelah melihat uraian tentang apa yang dibicarakan pada latar belakang persoalan diatas, maka pokok permasalahan yang dapat diangkat kepermukaan untuk dijadikan rumusan masalah pada makalah kali ini adalah:

1.      Apa yang menyebabkan munculnya hadits maudhu?

2.      Bagaimana kehujjahan hadits maudhu?

3.      Bagaimana mengetahui hadits maudhu?

II.     PEMBAHASAN

A.    Pengertian Hadits Maudhu

Menurut etimologi (bahasa), hadits maudhu merupakan bentuk isim maf’ul dari wadha’a. kata tersebut memiliki makna menggugurkan meninggalkan, dan mengada-ada.[2] Menurut Muhammad Ahmad, hadits maudhu berarti hadits palsu atau hadits yang dibuat-buat. Jadi secara bahasa hadits maudhu dapat kami simpulkan yaitu hadits palsu yang diada-adakan atau dibuat-buat.[3]

Sedangkan pengertian hadits maudhu menurut istilah yaitu: “Hadits yang disandarkan kepada Rasulullah SAW. secara dibuat-buat dan dusta, padahal beliau tidak mengatakan, berbuat ataupun menetapkannya.”[4] Menurut Fathur Rohman, hadits maudhu adalah: “Hadits yang dicipta serta dibuat oleh seseorang (pendusta), yang ciptaan itu dibangsakan kepada Rosulluloh SAW. secara palsu dan dusta, baik hal itu disengaja, maupun tidak“.[5] Ada juga ulama yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan hadîts maudhû ialah: “Hadis yang dibuat-buat oleh seseorang (pendusta) yang ciptaan  ini dinisbatkan kepada Rasulullah secara paksa dan dusta baik sengaja maupun tidak”.

Jadi pada dasarnya hadîst maudhû itu adalah bukan hadis yang bersumber dari rasul atau dengan kata lain bukan hadits rasul, akan tetapi suatu perkataan atau perbuatan seseorang atau pihak-pihak tertentu yang mempunyai kepentingan dengan suatu alasan kemudian dinisbatkan kepada rasul.

B.     Sejarah Perkembangan Hadits Maudhu

Para ahli berbeda pendapat dalam menentukan kapan mulai terjadinya pemalsuan hadits. Diantara pendapat-pendapat yang ada sebagai berikut:

a.       Menurut Ahmad Amin, bahwa hadits palsu terjadi sejak jaman Rasulullah Saw, beliau beralasan dengan sebuah hadits yang matannya “Barang siapa yang berdusta atas namaku bersiap-siaplah untuk mengambil tempat di neraka”

Menurutnya hadits tersebut menggambarkan kemungkinan pada zaman Rasulullah Saw. telah terjadi pemalsuan hadits. Akan tetapi pendapat ini ditentang oleh Musthafa Assiba’I dalam buku al-Hadits sebagai sumber hukum mengatakan, inilah yang ditonjolkan Ahmad Amin yang sama sekali tidak mempunyai alasan historis dan tidak pula tercantum dalam kitab-kitab standar yang bersangkutan dengan Asbabul Wurud. Data historis menunjukkan bahwa bahwa sepanjang hayat Rasulullah tidak pernah ada seorang dari kaum muslimin, apalagi para sahabat yang memalsukan satu kalimat pun atas nama Rasul dan menggakukan kalimat itu seolah-olah hadits.[6]

b.      Menurut jumhur muhadditsin, bahwa hadits telah mengalami pemalsuan sejak jaman khalifah Ali bin Abi Thalib. Sebelum terjadi pertentangan antara Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah bin Abu Sufyan, hadits masih bisa dikatakan selamat dari pemalsuan.

C.    Sebab-Sebab Munculnya Hadits Maudhu

Ada banyak sebab-sebab munculnya hadits maudhu, namun di sini akan dibahas secara garis besar orang-orang yang menciptakan sesuatu kreativitas yang menyalahi aturan serta berdampak buruk bagi umat. Menurut Nurcholish Majid, mengatakan bahwa pertentangan yang semakin memuncak antara kelompok Ali di Madinah dan Mu’awiyah di Damaskus terjadi peperangan yang tidak bisa terelakan lagi.[7] Menurut penulis kejadian tersebut merupakan salah satu latar belakang terjadinya pembuatan hadits maudhu juga.

Sedangkan sebab-sebab secara umum munculnya hadits maudhu antara lain:

a.     Mempertahankan ideologi partai (golongan)nya sendiri dan menyerang golongan yang lain. Pertentangan politik kekhilafahan yang timbul sejak akhir kekhalifahan Usman bin Affan dan awal kekhalifahan Ali bin Abi Thalib bisa dikatakan sebagai sebab munculnya golongan-golongan yang saling menyerang dengan pembuatan hadits-hadits palsu. Misal munculnya Syiah, kemudian Khawarij. Golongan Syiah yang paling banyak menciptakan hadits palsu ialah Syiah Rafidhah. Kaum Syafi’i mengatakan “saya tidak melihat suatu kaum yang lebih berani berdusta selain kaum Rafidhah”[8].

b.     Untuk merusak dan mengeruhkan agama Islam. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Zindiq, mereka membenci melihat kepesatan tersiarnya agama Islam dan kejayaan pemerintahannya. Mereka merasa sakit hati melihat orang-orang berbondong-bondong masuk Islam. Dengan maksud untuk merusak dan mengeruhkan agama Islam mereka membuat beribu-ribu hadits palsu dalam bidang aqidah, akhlaq, pengobatan dan hukum tentang halal dan haram. Diantara hadits palsu yang mereka ciptakan ialah:

“Tuhan kami turun dari langit pada sore hari di Arafah, dengan berkendaraan unta kelabu, sambil berjabatan tangan dengan orang-orang yang berkendaraan dan memeluk orang-orang yang berjalan”.

c.      Fanatik kebangsaan, kesukuan, kedaerahan, kebahasaan, dan kultus terhadap Imam mereka. Mereka yang ta’asub (fanatik) kepada bangsa dan bahasa parsi menciptakan hadits maudhu sebagai berikut:

 “Sesungguhnya Allah apabila marah, maka Dia menurunkan wahyu dalam bahasa Arab. Dan apabila reda maka Dia menurunkan wahyu dalam bahasa Parsi”

Kemudian golongan yang tersinggung membalas dengan membuat hadits yang palsu pula, “Sesungguhnya Allah itu apabila marah menurunkan wahyu dalam bahasa Parsi dan apabila reda maka menurunkan wahyu dalam bahasa Arab. Dan diantara contoh hadits-hadits palsu yang bermotif karena kultus terhadap imam diantaranya:

“Nanti akan lahir seorang laki-laki pada umatku bernama Abu Hanifah an-Nu’man, sebagai pelita umatku”

Ada juga golongan Syafi’iyah yang sempit pandangannya dan melibatkan diri untuk membuat hadits palsu untuk melawan pengikut-pengikut Abu Hanifah:

“Akan lahir seorang laki-laki pada umatku yang bernama Muhamad bin Idris, yang paling menggetarkan umatku daripada iblis”

d.     Membuat kisah-kisah dan nasihat-nasihat untuk menarik minat para pendengarnya. Kisah dan nasihat itu mereka nisbatkan kepada nabi, misalkan kisah-kisah yang menggembirakan tentang surga:

“Didalam surga itu terdapat bidadari-bidadari yang berbau harum semerbak, masa tuanya berjuta-juta tahun dan Allah menempatkan mereka disuatu istana yang terbuat dari mutiara putih. Pada istana itu terdapat tujuh puluh ribu papiliun yang setiap papiliun terdapat tujuh puluh ribu kubah. Yang demikian itu tetap berjalan selama tujuh puluh ribu tahun tanpa bergeser sedikitpun”[9]

e.      Mempertahankan madzhab dalam masalah khilafiyah fiqhiyah dan kalamiyah. Mereka yang menganggap tidak syah shalat dengan mengangkat tangan dikala shalat, membuat hadits palsu:

“Barangsiapa yang mengangkat kedua tangannya dalam shalat maka tidaklah sah shalatnya

Serta TM Hasbi mengatakan dalam bukunya bahwa sebab-sebab munculnya hadits maudhu antara lain:

a.       Perselisihan politik dalam soal khilafah. Partai-partai politik pada masa itu, ada yang banyak membuat hadits-hadits palsu serta ada yang sedikit. Yang paling banyak membuat hadits palsu untuk kepentingan golongan ialah: partai syiah dan rafidlah.

b.      Zandaqah. Dimaksud dengan zandaqah, rasa dendam yang bergelimang dalam hati nurani golongan orang yang tidak menyukai kebangunan Islam dan kejayaan pemerintahanya.

c.       Asbiyah yakni kefanatikan kebangsaan, kekabilahan, kebahasaan dan keimanan.

d.      Keinginan menarik minat para pendengar dengan kisah-kisah pengajaran dan hikayat-hikayat yang menarik.

e.       Perselisihan paham dalam masaalah fiqh dan masalah kalam.

f.       Pendapat yang membolehkan seseorang untuk membuat hadits demi kebaikan.

g.      Guna mendekatkan diri kepada pembesar-pembesar. [10]

Sedangkan menurut Musthafa Assiba’I dalam al-Hadits sebagai sumber hukum mengatakan bahawa ada 7 sebab munculnya Hadits palsu yaitu:

1.      Pertentangan Politik. Perselisihan politik sedikit banyak menimbulkan suasana kehidupan yang bergelimang dalam kebohongan dan memalsukan hadits yang bersumber dari Rasulullah saw.

2.      Usaha kaum sindiq. Kaum sindiq termasuk golongan yang membenci Islam sebagai agama ataupun sebagai dasar pemerintahan.

3.      Sikap fanatik buta terhadap bangsa, suku, bahasa, negeri dan pemimpin. Pembuatan hadits palsu dilakukan oleh mereka yang fanatik buta kepada seseorang atau sesuatu hal dengan maksud menonjol-nonjolkan keutamaannya.

4.      Memikat kaum awam dengan kisah dan nasehat. Dalam masyarakat dikenal dengan sebutan pawing (tukang bercerita) yang selalu menampilkan dongeng-dongeng menarik dan mempunyai peranan penting dalam masyarakat.

5.      Perselisihan dalam ilmu fiqih dan ilmu kalam. Dari pengikut-pengikut madzhab fiqih dan ilmu kalam yang berpandangan picik dan bergelimang dosa telah berselisih paham dalam berbagai hal.

6.      Membangkitkan gairah beribadah tanpa mengerti. Banyak di kalangan kaum zuhud, ahli ibadah dan shalihin yang membuat hadits dengan maksud baik akan tetapi berakibat fatal.

7.      Menjilat kepada raja atau kepada pemimpin pemerintahan.[11]

Menurut Mudasir dalam bukunya yang berjudul “Ilmu Hadits” menyatakan bahwa berdasarkan data sejarah, pemalsuan hadits tidak hanya lakukan oleh orang-orang Islam, tetapi juga dilakukan oleh orang-orang non-Islam. Ada beberapa motif ( latar belakang) yang mendorong mereka membuat hadits palsu yaitu sebagai berikut:

1.      Pertentangan politik

Pertentangan politik ini terjadi karena adanya perpecahan antara golongan yang satu dengan golongan yang lainnya, dan mereka saling membela golongan yang mereka ikuti serta mencela golongan yang lainnya. Seperti yang terjadi pada polemik pertentangan Ali dan Muawiyah sehingga terjadi golongan syi’ah, khawariz, dan mu’awiyah yang berujung pada pembuatan hadis palsu sebagai upaya untuk memperkuat golongannya masing-masing.

2.      Usaha kaum zindiq

Kaum zindiq adalah golongan yang membenci Islam, baik sebagai agama ataupun sebagai dasar pemerintahan. Mereka merasa tidak mungkin dapat melampiaskan kebencian melalui konfrontasu dan pemalsuan Al-Qur’an, sehingga menggunakan cara yang paling tepat dan memungkinkan, yaitu melakukan pemalsuan hadits, dengan tujuan menghancurkan agama islam dari dalam. Jadi, latar belakang kaum zindiq tersebut adalah supaya terjadi fitnah dalam islam dan akhirnya mengalami kehancuran, sehingga merekalah yang berjaya di muka bumi ini.

3.      Sikap fanatik buta terhadap bangsa, suku, bahasa, negeri, dan pimpinan

Menyatakan bahwa salah satu tujuan membuat hadits palsu adalah adanya sifat ego dan fanatik buta serta ingin menonjolkan seseorang, bangsa, kelompok, dan sebagainya. Jadi sikap tersebut ini bertujuan ingin menonjolkan atau memojokkan seseorang, bangsa, kelompok, pemimpin dan sebagainya. Itu disebabkan karena   kebencian, bahkan balas dendam semata.

4.      Mempengaruhi kaum awam dengan kisah dan nasihat

Kelompok yang melakukan pemalsuan hadits ini bertujuan untuk memperoleh simpati dari pendengarnya sehingga mereka kagum melihat kemampuannya. Jadi pada intinya mereka membuat hadits yang disampaikan kepada yang lainnya terlalu berlebih-lebihan dengan tujuan ingin mendapat sanjungan.

5.      Perselisihan dalam fiqih dan ilmu kalam

Munculnya hadits-hadits palsu dalam masalah-masalah fiqih dan ilmu kalam ini berasal dari para pengikut madzhab. Mereka melakukan pemalsuan hadits karena didorong sifat fanatik dan ingin menguatkan madzabnya masing-masing.

6.      Membangkitkan gairah beribadah, tanpa mengerti apa yang dilakukan

Banyak diantara para ulama yang membuat hadits palsu dengan asumsi bahwa usahanya itu merupakan upaya mendekatkan diri kepada Allah dan menjunjung tinggi agama-Nya. Jika dilihat dari tujuannya, itu merupakan suatu kebaikan, tetapi alangkah bijaknya jikalau kita mempertimbangkannya bahwa hal itu bukan merupakan hadits yang datang dari Rasulullah saw. tetapi merupaka kata-kata bijak yang dapat dijadikan motivasi untuk meningkatkan amaliyah ibadah kita.

7.      Menjilat penguasa

Cara ini digunakan untuk menarik simpatisan dari penguasa karena ingin mendapatkan sesuatu yang berharga seperti yang dilakukan oleh Giyas bin Ibrahim.

Pada dasarnya ada beberapa motif pembuatan hadits palsu diatas, dapat dikelompokan sebagai berikut: a.  Ada yang disengaja, b. Ada yang disengaja merusak agama, c. Ada yang karena merasa yakin bahwa membuat hadits palsu diperbolehkan, d. Ada yang karena tidak tahu gila dirinya membuat hadits palsu.

Dapat disimpulkan bahwa pada kenyataannya mereka membuat hadits maudhu (palsu) itu mempunyai kepentingan dan maksyud tersendiri yang motifnya berbeda-beda disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang mereka butuhkan saat itu.[12]

D.    Ciri-Ciri Hadits Maudhu

Sebagaimana telah kita ketahui bahwa para ulama telah membuat rumusan-rumusan, peraturan maupun undang-undang yang ketat mengenai bagaimana umat muslim bisa  mengetahui mana hadits yang shahih, hasan maupun hadits dhaif. Begitu juga mengenai hadits-hadits maudhu, para ulama telah membuat undang-undangnya. Ini bertjuan agar umat Islam tidak tersesat karena hadits itu. Menurut ulama ciri-ciri hadits maudhu yaitu:

a.       Pengakuan dari orang yang pernah melakukan pemalsuan hadits. Seperti pengakuan Abi ‘Ishmat Nuh bin Abi Maryam, yang digelari Nuh Al-Jami’, bahwasanya ia telah memalsukan hadits atas Ibnu Abbas tentang keutamaan-keutamaan al-Quran surat per surat. Dan seperti pengakuan Maisarah bin Abdi Rabbihi Al-Farisi bahwa dia telah memalsukan hadits tentang keutamaan Ali sebanyak tujuh puluh hadits.

b.      Pernyataan dari orang yang melakukan pemalsuan hadits, diposisikan sama dengan pengakuan. Seperti seseorang menyampaikan hadits dari seorang syaikh, dan hadits itu tidak diketahui  kecuali dari syaikh tersebut. Ketika ditanya perawi tersebut, tentang tanggal kelahirannya, ternyata perawi dilahirkan sesudah kematian syaikh. Atau pada saat syaikh meninggal dia masih kecil dan tidak mendapatkan periwayatan.

c.       Adanya inidikasi perawi yang menunjukkan akan kepalsuannya. Misal perawi Rafidhah, haditsnya tentang keutamaan ahli bait. As- Suyuthi berkata:”Dari indikasi perawi (maudhu’) adalah dia seorang Rafidhah dan haditsnya tentang keutamaan ahli bait. Hamad bin Salamah berkata: “Menceritakan kepada syaikh mereka (Rafidhah), dengan berkata: “Bila kami berkumpul, kemudian ada sesuatu yang kami anggap baik; maka kami jadikan sebagai hadits.”

d.      Adanya indikasi pada isi hadits, bertentangan dengan akal sehat, bertentangan dengan indra, berlawanan dengan ketetapan agama atau susunan lafazh lemah dan kacau, serta kemustahilan hadits tersebut  bersumber dari Rasulullah s.a.w.

Menurut TM Hasbi dalam sejarah dan pengantar ilmu hadits menulis, tanda-tanda kemaudlu’an hadits terbagi dua:

1.      Tanda-tanda pada sanad.

Banyak tanda-tanda kemaudhu’an hadits pada sanad. Di bawah ini akan diterangkan yang penting yaitu:

a.       Perawi itu terkenal berdusta (seorang pendusta) dan haditsnya tidak diriwayatkan oleh orang yang dapat dipercaya.

b.      Pengakuan perawi sendiri.

c.       Menurut sejarah mereka tidak akan mungkin bertemu.

d.      Keadaan perawi-perawi sendiri serta dorongan membuat hadits

2.      Tanda-tanda pada matan.

Tanda-tanda pada matan pun banyak pula, yang penting diingat ialah:

a.       Buruk susunan dalam lafadhnya. Memang apabila telah rapat pergaulan kita dengan hadits, terasa keindahan susunan hadits dan terasa pula susunan yang tidak mungkin akan keluar dari ldah Nabi saw.

b.      Rusak maknanya

a)      Karena berlawanan makna hadits dengan soal-soal yang mudah dicerna akal dan tak dapat pula ditakwilkan.

b)      Karena berlawanan dengan makna akhlaq atau menyalahi kenyataan.

c)      Karena berlawanan dengan ilmu kedokteran

d)     Karena menyalahi undang-undang (ketentuan-ketentuan) yang ditetapkan akal terhadap Allah.

e)      Karena mengandung dongeng yang tidak masuk akal sama sekali

c.       Menyalahi keterangan al-Qur’an yang terang, keterangan sunnah yang mutawattir dan kaidah-kaidah kulliyah.

d.      Menyalahi hakikat sejarah yang telah terkenal di masa Nabi.[13]

Menurut Ibn al-Qayyim dalam memahami ilmu hadits mengatakan bahwa untuk mengetahui hadits itu palsu atau ngak harus melakukan telaah mendalam atas sanad. Inilah ringkasan tentang hadits maudhu dari Ibn al-Qayyim:

a.       Jika pernyataan tersebut mengandung pernyataan berlebihan yang mustahil di buat Nabi saw.

b.      Pengalaman menolaknya,

c.       Jenis penisbahan yang konyol.

d.      Melawan sunah yang dikenal

e.       Menisbahkan pernyataan kepada Nabi saw seolah pernyataan itu tidak dibuat di hadapan ribuan sahabat tapi mereka semua menyembunyikanya.

f.       Pernyataan itu tidak mempunyai kemiripan dengan pernyataan lain Nabi saw.

g.      Kedengaran seperti kata-kata mistikus atau tukang jual obat.

h.      Bertentangan dengan arti yang jelas dan nyata dari al-Qur’an.

i.        Gayanya tidak pantas.[14]

 

Menurut Fathur Rahman, menerangkan bahwa ciri-ciri hadist maudhu sebagaimana para ulama menciptakan kaidah-kaidah dan ketentuan-ketentuan untuk mengetahui sahih, hasan, atau daifnya suatu hadist, mereka juga menentukan ciri-ciri untuk mengetahui kemaudhuan satu hadist. Mereka menentukan ciri-ciri yang terdapat pada sanad dan ciri-ciri yang terdapat pada matan hadis, yaitu sebagai berikut:

a.       Ciri-ciri yang Terdapat pada Sanad

Ciri-ciri yang terdapat pada sanad, ialah: Pengakuan dari pembuat hadits itu sendiri. Hal ini seperti pengakuan seorang guru Tashawuf, ketika ditanya oleh Ibnu Isma’il tentang keutamaan ayat-ayat Al-Qur’an, serentak menjawab:

“Tidak seorang pun yang meriwayatkan hadist kepadaku. Akan tetapi serentakkami melihat mansia-mansia sama membenci Al-Qur’an, kamiciptakan untuk mereka hadist ini (tentangkeutamaan ayat-ayat Al-Qur’an), agar mereka menaruh perhatian untuk mencintai Al-Qur’an.”

b.      Qarinah-qarinah yang memperkuat adanya pengakuan membuat hadits maudhu.

Misalnya seorang  rawi mengaku menerima hadits dari seorang guru, padahal ia tidak pernah bertemu dengan guru tersebut. Atau menerima dari seorang guru yang telah meninggal dunia sebelum ia dilahirkan.

c.       Qarinah-qarinah yang berpautan dengan tingkah-lakunya.

Seperti apa yang pernah dilakukan oleh Ghiyats bin Ibrahim, di kala ia berkunjng ke rumah Al-Mahdy yang tengah bermain dengan burung merpati. Katanya:

 “Tidak sah perlombaan itu selain: mengadu anak panah, mengadu unta, mengad kuda, atau mengadu burung.”

Perkataan au janahin atau mengadu burung adalah perkataan Ghiyats sendiri, yang dengan sepontan ia tambahkan di akhir hadits yang ia ucapkan, dengan maksud untuk membesarkan hati, atau setidak-tidaknya, membenarkan tindakan Al-Mahdy yang sedang melombakan burung.

 

 

 

d.      Ciri-ciri yang Terdapat pada Matan

Ciri-ciri yang terdapat pada matan itu, dapat ditinju dari segi makna dan dari segi lafadhnya. Dari segi maknanya, maka makna hadits itu bertentangan dengan: Al-Quran, dengan hadits mutawatir, dengan ijma’ dan dengan logika yang sehat.

Contoh hadits maudhu yang maknanya bertentangan dengan Al-Quran, ialah hadits:

Anak zina itu,tidak dapat mask surga, sampai tujuh keturunan.”

Makna hadits ini bertentangan dengan kandungan surat Al-An’am  ayat 164, yang berbunyi:

 “Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.”

Kandungan ayat tersebt menjelaskan bahwa dosa seseorang tidak dapat dibebenkan kepada orang lain,sampai seorang anak sekalian tidak dapat dibebani dosa orang tuanya.[15]

E.     Tokoh-Tokoh yang Membuat Hadits Maudhu

Menurut Mudasir (2008:177-178) mengatakan bahwa diantara tokoh-tokoh yang membuat hadits maudhu antara lain sebagai berikut:

1.  Ghulam Al-khalil (dikenal ahli zuhud)

Dia dikenal dalam membuat hadits tentang keutamaan wirid dengan maksud memperhalus kalbu manusia. Dalam kitab tafsir Ats-Tsalabi, Zamakhsyari, dan Baydawi terdafat banyak hadits palsu. Begitu juga dalam kitab Ihya Ulum Ad-Din.

Bayak diantara para ulama yang memotivasi umat untuk beribadah dengan menggunakan hadits maudhu. Menurut situs http://www.ikhwan-interaktif.com/islam, ungkapan “hubbul wathon minal iman” memang sering dianggap hadits Nabi SAW oleh para tokoh [nasionalis], mubaligh, dan juga da`i yang kurang mendalami hadits dan ilmu hadits. Tujuannya adalah untuk menancapkan paham nasionalisme dan patriotisme dengan dalil-dalil agama agar lebih mantap diyakini umat Islam.

Namun sayang, sebenarnya ungkapan “hubbul wathon minal iman” adalah hadits palsu (maudhu’). Dengan kata lain, ia bukanlah hadits. Demikianlah menurut para ulama ahli hadits yang terpercaya, sebagaimana akan diterangkan kemudian. Maka dari itu, saya peringatkan kepada seluruh kaum muslimin, agar tidak mengatakan “hubbul wathon minal iman” sebagai hadits Nabi SAW, sebab Nabi SAW faktanya memang tidak pernah mengatakannya. Menisbatkan ungkapan itu kepada Nabi SAW adalah sebuah kedustaan yang nyata atas nama Nabi SAW dan merupakan dosa besar di sisi Allah SWT. Nabi SAW bersabda :

“Barangsiapa yang berdusta atasku dengan sengaja, hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka.” (Hadits Mutawatir).

2.  Giyats Ibrahim

Dia merupakan tokoh yang banyak ditulis dalam kitab hadits sebagai pemalsu hadits tentang “perlombaan”. Matan aslinya berbunyi:

  1. لاسَبَقَ اِلا فِىْ نَصْلٍ اَوْ خُفٍ

Kemudian ia menambahnya dengan kata اَوْ جُنَاحٌ  diakhir hadits agar diberi hadiah atau mendapat simpatik dari khalifah Al-Mahdy. Setelah mendengar hadiah tersebut, Al-Mahdi memberikan hadian sepuluh dirham, namun ketika Giyats hendak pergi, Al-Mahdi menegur seraya berkata, “ aku yakin itu sebenarnya merupakan dusta atas nama Rasulullah saw.” Menyadari hal itu, Khalifah memerintahkan untuk menyembelih merpatinya.

F.     Hukum Meriwayatkan Hadits Maudhu

Hadits maudhu’ merupakan hadits yang paling rendah dan paling buruk. Sehingga para ulama’ sepakat, haramnya meriwayatkan hadits maudhu’ dari orang yang mengetahui kepalsuannya dalam bentuk apapun, kecuali disertai dengan penjelasan akan kemaudhu’anya. Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa yang menceritakan hadits dari sedang dia mengetahui bahwa itu dusta, maka dia termasuk para pendusta.” (HR. Muslim).

 

G.    Kitab

Melihat perkembangan dan dampaknya dari hadits maudhu, maka para ulama membuat dan mengumpulkan hadits-hadits maudhu ke dalam satu buku. Diantara buku yang dihasilkan oleh para ulama tentang hadits maudhu yaitu:

a.       Al-Maudlu’aat, karangan Ibnul-Jauzi – beliau paling awal menuliskan ilmu ini.

b.      Al-La’ali Al-Mashnu’ah fil-Ahaadits Al-Maudluu’ah, karya As-Suyuthi – merupakan ringkasan kitab Ibnul-Jauzi dengan beberapa tambahan.

c.       Tanzihusy-Syar’iyyah Al-Marfu’ah ‘anil-Ahaadits Asy-Syani’ah Al-Maudluu’ah, karya Ibnu ‘Iraq Al-Kittani – yang merupakan ringkasan dari kedua kitab tersebut di atas.

d.      Silsilah Al-Ahaadits Adl-Dla’iifah wal-Maudluu’ah, karya Al-Albani

e.       Maudhu’at Kabir karya Mullah Ali Qori

f.       Al-fawa’id al-Majmu’ah karya Saukani.[16]

H.    Contoh – Contoh Hadits Maudhu

Begitu banyak contoh dari hadits maudhu itu, namun di makalah ini akan memberi contoh bagian per bagian, agar memudahkan kita mengetahui dan agar kita mengenalinya lebih dalam.

a.       Karena berlawanan makna hadits dengan soal-soal yang mudah dicerna akal dan tak dapat pula ditakwilkan.

“Bahwasanya bahtera Nuh bertawaf tujuh kali keliling ka’bah dan bersembahyang di makam nabi Ibrahim dua rakaat”

b.       Karena berlawanan dengan makna akhlaq atau menyalahi kenyataan.

“Tiada dilahirkan seseorang anak sesudah tahun seratus yang ada padanya keperluan bagi Allah”

c.       Karena berlawanan dengan ilmu kedokteran.

“Buah terong itu penawar bagi segala penyakit”

d.      Karena menyalahi undang-undang (ketentuan-ketentuan) yang ditetapkan akal terhadap Allah.

“Bahwasanya Allah menjadikan kuda betina, lalu ia memacunya. Maka lalu berpeluhlah kuda itu, lalu Tuhan menjadikan dirinya dari kuda itu”

e.       Karena mengandung dongeng yang tidak masuk akal sama sekali

“Ayam putih kekasihku dan kekasih dari kekasihku Jibril”

III.   Kesimpulan

Dari uraian-uraian yang telah dikemukakan, penulis dapat menyimpulkan makalah yang berjudul hadits maudhu (kriteria, sebab-sebab munculnya, kitab, contoh dan kehujjahanya) ini, yaitu sebagai berikut:

1.      Ada banyak sebab munculnya hadits maudhu, namun sebab yang paling menonjol dalam sejarah ilmu hadits adalah sebagai berikut: (a). Mempertahankan ideologi partai (golongan)nya sendiri dan menyerang golongan yang lain, (b). Untuk merusak dan mengeruhkan agama Islam, (c). Fanatik kebangsaan, kesukuan, kedaerahan, kebahasaan, dan kultus terhadap Imam mereka, (d). Membuat kisah-kisah dan nasihat-nasihat untuk menarik minat para pendengarnya, (e). Mempertahankan madzhab dalam masalah khilafiyah fiqhiyah dan kalamiyah.

2.      Hadits maudhu’ merupakan hadits yang paling rendah dan paling buruk. Sehingga para ulama’ sepakat, haramnya meriwayatkan hadits maudhu’ dari orang yang mengetahui kepalsuannya dalam bentuk apapun, kecuali disertai dengan penjelasan akan kemaudhu’anya. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang menceritakan hadits dari sedang dia mengetahui bahwa itu dusta, maka dia termasuk para pendusta.” (HR. Muslim).

3.      Kita dapat mengetahui tentang kualitas dan kemaudhuan hadits dari dua hal yaitu:

a.       Tanda-tanda pada sanad. Banyak tanda-tanda kemaudhu’an hadits pada sanad diantaranya, (Perawi itu terkenal berdusta (seorang pendusta) dan haditsnya tidak diriwayatkan oleh orang yang dapat dipercaya; Pengakuan perawi sendiri; Menurut sejarah mereka tidak akan mungkin bertemu; Keadaan perawi-perawi sendiri serta dorongan membuat hadits)

b.      Tanda-tanda pada matan. Tanda-tanda pada matan pun banyak pula, yang penting diingat ialah: 1). Buruk susunan dalam lafadhnya. Memang apabila telah rapat pergaulan kita dengan hadits, terasa keindahan susunan hadits dan terasa pula susunan yang tidak mungkin akan keluar dari ldah Nabi SAW. 2). Rusak maknanya (Karena berlawanan makna hadits dengan soal-soal yang mudah dicerna akal dan tak dapat pula ditakwilkan; Karena berlawanan dengan makna akhlaq atau menyalahi kenyataan; Karena berlawanan dengan ilmu kedokteran; Karena menyalahi undang-undang (ketentuan-ketentuan) yang ditetapkan akal terhadap Allah; Karena mengandung dongeng yang tidak masuk akal sama sekali; Menyalahi keterangan al-Qur’an yang terang, keterangan sunnah yang mutawattir dan kaidah-kaidah kulliyah dan Menyalahi hakikat sejarah yang telah terkenal di masa Nabi).

 

DAFTAR PUSTAKA

Ajjâj Al-Khatîb, Ajjaj, Ushûl Al-Hadîst, Ulûmuhu wa Mushthalahuhu (Beirut: Dâr Al-Fikr, 1981).

Assiba’I, Musthafa, Al-Hadits sebagai sumber hukum serta latar belakang historisnya (Jawa Barat: CV Dipenogoro).

Azami, MM, Memahami Ilmu Hadis, Telaah Metodologi & Literatur Hadis (Jakarta: PT Lantera Basritama, 2003).

Hasby Ash Shiddieqy, TM, Sejarah Dan Pengantar Ilmu Hadits (Semarang: PT Pustaka Rizki Putra, 1999).

Khon, Madjid, Ulumul Hadits. (Jakarta: Pusat Studi Wanita (PSW) UIN Sunan Hidayatulah, 2005).

Madjid, Nurcholish, Khazanah Intelektual Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1984).

Mudasir, Ilmu Hadits (Bandung: Pustaka Setia, 2007).

Muhammad, Ahmad & Mudzakir, Ulumul Hadits (Bandung: Pustaka Setia, 2000).

Nashiruddin Al-Albani, Muhammad, Silsilah Hadits Dha’If dan Maudhu (Jakarta: Gema Insani, 2000).

Rahman, Fathul, Ikhtisar Mushthalahu Al- Hadits (Jogjakarta: PT Al-ma’rif, 1970).

Suparta, Munzier, Ilmu Hadis (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2008).

 


[1] Makalah ini dipresentasikan dan menjadi tugas akhir pada mata kuliah studi hadits, magister agama Islam universitas muhammadiyah malang.

[2] Majid Khon, Ulumul Hadits. (Jakarta: Pusat Studi Wanita (PSW) UIN Sunan Hidayatulah, 2005), Hlm 167

[3] Ahmad Muhammad & Mudzakir, Ulumul Hadits (Bandung: Pustaka Setia, 2000), Hlm 152.

[4] Ajjâj Al-Khatîb, ‘Ushûl Al-Hadîst, Ulûmuhu wa Mushthalahuhu (Beirut: Dâr Al-Fikr, 1981),  Cet Ke-4 hlm 415.

[5] Fathul Rahman, Ikhtisar Mushthalahu Al- Hadits (Jogjakarta: PT Al-ma’rif, 1970), Hlm 168.

[6] Musthafa Assiba’I, Al-Hadits Sebagai Sumber Hukum Serta Latar Belakang Historisnya (Jawa Barat: CV Diponogoro), Hlm 301.

[7] Nurcholish Madjid, Khazanah Intelektual Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), Hlm 11.

[8] Munzier Suparta, Ilmu Hadis (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2008), Hlm 181.

[9] Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Silsilah Hadits Dha’If dan Maudhu (Jakarta: Gema Insani, 2000),  Hlm 181.

[10] Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Sejarah Dan Pengantar Ilmu Hadits (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 1999) Hlm 229.

 

[11] Musthafa Assiba’I, Al-Hadits Sebagai Sumber Hukum Serta Latar Belakang Historisnya (Jawa Barat: CV Diponogoro) Hal 139.

[12] Mudasir, Ilmu Hadits (Bandung: Pustaka Setia, 2007), Hlm 173-178.

[13] Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Sejarah Dan Pengantar Ilmu Hadits (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 1999), Hlm 218.

[14] MM Azami, Memahami Ilmu Hadis Telaah Metodologi & Literatur Hadis (Jakarta: PT Lantera Basritama, 2003), Hlm 124.

[15] Fathul Rahman, Ikhtisar Mushthalahu Al- Hadits (Jogjakart: PT Al-ma’rif, 1970), Hlm 169.

[16] MM Azami, Memahami Ilmu Hadis Telaah Metodologi & Literatur Hadis (Jakarta: PT Lantera Basritama, 2003) Hlm 198.

 

http://joni-harianto.blogspot.com/2012/03/hadits-maudhu.html

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s